Jenis Risiko dalam Dunia Investasi

Jenis Risiko dalam Dunia Investasi – Tidak ada investasi yang tidak mengenal risiko. Pepatah mengatakan no pain no gain high risk high gain. Semakin tinggi risiko sebuah investasi maka biasanya semakin besar keuntungan yang dijanjikan. Bukan cuma di dunia bisnis, di dunia kriminal pun demikian.

Jenis Risiko dalam Dunia Investasi

Merampok dibandingkan mencopet keuntungannya lebih besar. Sekali rampok bisa ratusan juta rupiah bakal diperoleh. Tetapi risiko merampok pun tinggi, selain berbahaya di “dor” polisi, juga ancaman hukumannya lebih berat. Menjual heroin tentu lebih menjanjikan dan lebih menguntungkan dari menjual emas sekalipun. Tetapi risikonya pun lebih berat, seperti hukuman mati atau penjara seumur hidup.

Kalau Anda berinvestasi di dunia saham, jangan pernah mau dikecohkan oleh pialang yang menjanjikan hasil investasi yang 100% bebas risiko. Semakin mereka menjanjikan tanpa risiko maka semakin tidak profesional pialang tersebut. Alasannya, setajam apapun analisis mereka, sedekat apapun informasi mereka dari sumbemya, seaman apapun strategi portofolio yang mereka jalankan, sebuah investasi tetap berisiko.

Biasanya perusahaan sekuritas (pialang) yang profesional akan menjelaskan kepada Anda atau memberi Anda gambaran secara umum risiko-risiko apa saja yang bakal Anda alami berkaitan dengan investasi yang Anda pilih. Dan tugas mereka adalah berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari risiko tersebut sekaligus memaksimalkan hasil investasi Anda.

Jenis-Jenis Risiko

Risiko dalam dunia investasi sering dibedakan menjadi risiko potensial dan non-potensial. Yang dimaksud risiko potensial adalah risiko yang jelas-jelas bakal Anda alami yang berkaitan dengan kerugian berbentuk fisik atau materi jika investasi tersebut gagal.

Misalnya Anda membuka toko maka risiko potensialnya adalah rugi, bangkrut, terbakar, dan sebagainya. Intinya adalah Anda harus mengeluarkan tambahan uang berkaitan dengan risiko tersebut. Jika Anda bermain saham maka risiko potensialnya adalah capital loss dan tidak mendapatkan deviden.

Sedangkan risiko non-potensial adalah risiko yang dapat Anda alami tetapi boleh jadi tidaklah begitu berarti dan tidak menyebabkan kerugian materi. Misalnya risiko psikologis seperti stress, bosan, gelisah, waktu yang terbuang percuma dan sebagainya.

Di samping kedua macam risiko tersebut, dunia investasi juga mengenal apa yang disebut dengan risiko sistematik dan risiko non-sistematik (unique risk). Risiko sistematik adalah risiko yang dapat terjadi dan dialami setiap investor di mana faktor-faktor pencetus risiko tersebut berada di luar lingkungan intern perusahaan (investor) bahkan di luar jangkauan investor.

Misalnya risiko akibat bencana alam, campur tangan pemerintah dalam sebuah kebijakan seperti pajak, kuota, proteksi, aneka peraturan tentang perdagangan saham, penetapan kurs devisa, suku bunga, dan sebagainya.

Sedangkan risiko non-sistematik atau unique risk adalah risiko yang dapat dialami investor (perusahaan) di mana faktor-faktor pencetusnya berada di lingkungan intern perusahaan itu sendiri atau berada di dalam jangkauan investor. Risiko-risiko ini seperti risiko akibat konflik intern perusahaan, ulah para pesaing, perilaku konsumen, dan sebagainya yang tentunya akan bisa diatasi dengan strategi-strategi yang ada. Katakanlah financial strategy atau diversifikasi.

Jika Anda dihadapkan pada jenis investasi di mana modal awalnya sama, rate of return-nya sama, maka pilihlah jenis investasi yang paling kecil risikonya. Jika rate of return sebuah deposito, saham dan buka usaha adalah 20% per tahun, maka pilihlah deposito. Alasannya, sudah pasti karena deposito lebih aman dan tidak merepotkan.

Tidak heran sebuah investasi baru dikatakan layak jika rate of return-nya lebih tinggi dari bunga deposito. Jika tidak, buat apa susah-susah berinvestasi, lagi pula belum tentu untung atau hasilnya lebih tinggi dari bunga deposito?

Demikian info tentang Jenis Risiko dalam Dunia Investasi semoga bermanfaat.

Sumber: Membaca Saham, Ali Arifin

Ternyata belajar internet itu mengasyikan, apalagi bisa punya penghasilan 20 jutaan per bulan... rasanya gimana gitu... Tapi gimana cara belajarnya?? Klik gambar di bawah untuk dapat solusinya

loading...

Leave a Reply