Perhatikan Empat Model Pintar Berikut Ini Tatkala Menetapkan Harga Suatu Produk

Topik kita kali ini yaitu Perhatikan Empat Model Pintar Berikut Ini Tatkala Menetapkan Harga Suatu Produk. Harga ialah salah satu faktor urgen dalam dunia bisnis. Harga jual yang berbeda secuil aja dapat berakibat membahayakan di mana pembeli berpindah ke penjual atau barang lain. Tapi ini tak berarti bahwa harga yang lebih mahal akan dijauhi pelanggan. Contoh yang paling sederhana misalnya produk obat atau susu.

Perhatikan Empat Model Pintar Berikut Ini Tatkala Menetapkan Harga Suatu Produk

Semakin mahal harga produk obat atau susu maka makin diyakini berdampak luar biasa. Maka gak jarang bakal tetap dicari dan jadi dambaan setiap client. Sebetulnya ini cuma perkara persepsi atau selera, sebab enggak segala produk yang harganya lebih mahal mempunyai kualitas yang lebih bagus.

Perhatikan Empat Model Pintar Berikut Ini Tatkala Menetapkan Harga Suatu Produk

Berikut ini beberapa teknik penetapan harga pada suatu usaha

1. Penentuan Harga Biaya Produksi Plus (Cost Plus Pricing Method)

Jika barang yang temen-temen jual atau produksi telah memunculkan total biaya tertentu, kita tinggal mengatrol harganya. Pertambahan harga inilah yang jadi harga jual Anda. Katakanlah untuk satu lusin busana menghabiska Rp 100.000 dan Anda tinggal naikkan menjadi 150 ribu rupiah (harga jual). Selisih harga jual dan harga produksi sebesar 50 ribu rupiah yaitu profit Anda.

Sepertinya sangat mudah memakai metode ini. Tinggal ditambah prosentase harga sesuai keinginan temen-temen. Padahal biaya-biaya enggak terhitung (overhead cost) seringkali malah tidak terhitung dan tidak dimunculkan dalam estimasi jumlah biaya. Akibatnya, di akhir tahun, begitu financial statement diaudit, ternyata keuntungan perusahaan sangat kecil. Artinya, tindakan keras kita selama ini ternyata sia-sia.

Perhatikan Empat Model Pintar Berikut Ini Tatkala Menetapkan Harga Suatu Produk

2. Penetapan Harga Mark Up (Mark Up Pricing Method)

Persoalannya adalah seberapa besar nilai laba yang ingin kita dapat? Apakah 10%, 20%, 50% atau malah 100 persen? Sistem ini lebih sederhana sebab kawan-kawan tak mesti terlalu memprediksi jenis-jenis biaya lain seperti overhead cost. Cukup ditentukan nilai laba yang diinginkan. Katakanlah 1 lusin gaun menghabiska biaya Rp 100 ribu dan ditetapkan mark up-nya sebesar 30%. Artinya harga jual yakni 130 ribu rupiah.

Untuk memperoleh hasil yang paling maksimal andaikan kaidah ini digunakan, kita kudu mempunyai data atau informasi mendasar tentang standar laba dari usaha yang Anda buka dan baru kemudian mark up yang diberlakukan disesuaikan. Bila membuka restoran atau bisnis makanan tingkat laba biasanya (standar) yaitu 50 persen, artinya Anda kudu mendekati angka tersebut.

Jika toko bahan bangunan surplus biasanya adalah 40 persen, artinya Anda mesti mendekati angka tersebut. Semuanya itu bisa kawan-kawan survei lewat perusahaan atau usaha yang menjadi benchmark dari usaha temen-temen tersebut. Istilahnya usaha yang sama, yang paling terkenal dan omsetnya paling besar.

Hal ini ditempuh agar usaha keras yang kita kerjakan tak sia-sia, istilahnya bekerja capek-capek sekadar untuk orang lain atau hanyalah buat bayar sewa, gaji dan lain-lain. Selain itu supaya jangan sampai mark up yang kamu tentukan lebih tinggi dari yang ditentukan industri sejenis yang akan menjadikan kamu menemui kesulitan dalam menjalankan strategi penjualan.

Perhatikan Empat Model Pintar Berikut Ini Tatkala Menetapkan Harga Suatu Produk

3. Penentuan Harga Mengikuti Pasar (Market Pricing Method)

Lazimnya disebut juga penetapan harga mengikuti pesaing. Seandainya ada yang menjual pada harga berkisar Rp 120.000 – 150.000 per lusin, maka sahabat-sahabat tinggal menyesuaikannya dengan kemauan kalian, mana yang pas.

Untuk mengenakan model ini, Anda harus mengetahui keadaan perusahaan kita, apa sebagai pemain baru atau pemain lama. apakah termasuk kelompok market leader, market follower atau market nicher. Pastinya makin kuat kondisi perusahaan kalian maka makin besar kekuatan bargaining Anda terhadap harga jual yang bisa Anda aplikasikan. Otomatis surplus kamu pun makin besar.

Perhatikan Empat Model Pintar Berikut Ini Tatkala Menetapkan Harga Suatu Produk

4. Penentuan Harga Imbal Hasil (Break Even Point Pricing Method)

Teknik penentuan harga ini didasari pada kapan sebaiknya modal yang sudah diinvestasikan dalam usaha tersebut kembali. Makin cepat kembali maka semakin baik. Contohnya, apabila bisnis kita menggunakan Rp 100.000.000 dan sahabat-sahabat mengharapkan modal tersebut kembali dalam jangka waktu 10 bulan, ini berarti tingkat surplus bersih yang mesti temen-temen capai yaitu 10 juta rupiah per bulan.

Buat mendapat keuntungan tersebut, kawan-kawan tinggal menstrategikan bagaimana tekniknya supaya laba tersebut tercapai dari penetapan harga jual yang diberlakukan. Setelah jangka waktu sepuluh bulan maka berikutnya yakni surplus bersih yang bersifat tetap.

Rata-rata penetapan harga awal kalau melaksanakan kaidah ini lebih tinggi dari harga yang seharusnya (pasaran). Tetapi apabila modal yang diinvestasikan sudah kembali maka harga jualnya bakal jadi lebih murah dari harga produk sejenis.

Sekian informasi mengenai Perhatikan Empat Model Pintar Berikut Ini Tatkala Menetapkan Harga Suatu Produk, semoga post kali ini berguna buat temen-temen. Mohon artikel ini dishare supaya semakin banyak yang memperoleh manfaat.

Referensi :

Ternyata belajar internet itu mengasyikan, apalagi bisa punya penghasilan 20 jutaan per bulan... rasanya gimana gitu... Tapi gimana cara belajarnya?? Klik gambar di bawah untuk dapat solusinya

loading...

Leave a Reply